Jauh

Tibatiba saja kita kita jauh, saat subuh belum sempat jatuh, dan mimpi tentangmu lepas tak terengkuh. Seperti halhal yang sering terlupakan begitu saja. Kita memilih jauh untuk sekadar menguji sekeras apa dada bertabuh.  

 

Pada mulanya kita jauh, lalu bertukar riuh, sampai akhirnya dada kita saling bergemuruh dan tahu kemana akan berlabuh.

 

Seperti kamu, hujan jatuh hanya sekadar menyentuh tubuh. Sebab jauh adalah percintaan tanpa nada. Mengalun sembunyi melangkah pasti, lalu tibatiba saja ada yang jatuh. Menjalar melewati nalar, bernyanyi sendu, lalu tibatiba saja ada yang tersentuh. Dan jauh terkadang memberi luka rasa sembuh.

 

Kemana aku cari hakikat jauh? Andaikan semua bisa dinamai dekat, mungkin tak pernah merasakan hening. Andaikan semua memilih jauh, aku dan kau hanyalah riuh yang tak bersambut.

 

Satupersatu kita membatu tertelan waktu. Hendak memilih kemana tubuh berteduh. Saat kau memilih menghilang di telan ilalang. Dan aku terdiam digigit malam.

 

Maka biarlah ada jauh: sekadar tanda kita kan dekat kembali. Seperti bulan kepada malam, melepas dekat tuk kian melekat. Aku dan kamu, lahir dari banyaknya jauh. Melepas pergi dari ujung sudut mataku, dan kau muncul di balik punggungku.

 

Biarlah aku mencintai jauh dengan segala riuh, semacam angin pada langit, mengabarkan yang tak terdengar.

 

Sabarlah pada sebuah jauh, sebab kita akan saling merengkuh.

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s