Sefni Yenti

“Kala itu, Rabu 20 Maret, sore hari, saat angin bertiup sepoy-sepoy, angin yang hanya menggerakkan daun telinga, tak sampai menyentuh gendang telinga” _Iman

Kali ini tentang Iman. Eh tapi bukan iman dalam pandangan agama yang secara harfiah berarti percaya. Ini tentang seorang kawan yg unik dan menarik, Iman. Entah apa yg ada dalam bayangan kalian ketika saya menulis tentang Iman. First of all saya mau konfirmasi dulu bahwa tulisan ini saya persembahkan untuk seorang Iman, kawan baik yg baru saya kenal September 2012. Tak lama memang jika dihitung sampai hari ini, tapi jujur saya terkesan #bukanmodus.

Saya mengenal Iman lewat tulisan, jauuuh sebelum saya bertemu dengannya di dunia persilatan. Iman dalam bayangan awal saya adalah seperti tulisannya, kreatif, nyeni, dan berwawasan luas. Tak butuh waktu lama untuk saya buktikan imajinasi itu di dunia nyata. Ya, memang demikianlah iman, seorang seniman, arkealog, antropolog dan mungkin psikolog. Sebuah paket lengkap yang unik…

Lihat pos aslinya 388 kata lagi

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s