Wanita: Mulailah Pemahaman Sederhana

ADA dua hal yang tak pernah habis diperbincangkan di dunia ini, yaitu perempuan dan hantu. Entah kenapa wanita tak akan pernah habisnya diperbincangkan. Namun, saya pun di sini akan memperbincangkan perempuan, perempuan muslim khususnya. Hal ini karena pembicaraan terhadap perempuan merupakan sebuah gambaran yang unik sekaligus kontroversial.

Unik karena wanita memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari sisi objektif dan subjektif pribadi sebagaisocial human atau religion human. Wanita memiliki sisi-sisi yang kontroversial karena kedudukannya yang selalu dipersoalkan dan diperdebatkan di mana-mana.

Kedudukan wanita sebagai makhluk sosial menjadi masalah tatkala masyarakat tak dapat memahami wanita, apalagi bila wanita sebagai subjek dan objek sosial tak dapat mengidentfikasikan fungsinya.

Betapa mulianya wanita sehingga Aisyah menjadi satu-satunya makhluk selain nabi yang mendapat kiriman salam dari malaikat jibril. Betapa hebatnya keteguhan Asiyah yang mampu mempertahankan keimanannya dalam kungkungan kekufuran firaun sehingga Allah memberi jaminan surga untuknya. Kisah itu muncul karena pemahaman dan fungsi seorang Aisyah dan Asiyah sebagai wanita. Dua wanita mampu mengidentifikasikan dan memahami kedudukan sebagai wanita pada masa itu.

Tak perlulah kita menasehati dan mengeja lagi kenapa wanita harus menjadi sesosok Aisyah dan Khadijah. Tak perlulah kita mengajari perempuan untuk menjadi sesosok wanita soleh yang menurut pada pria. Kedudukan dan pemahaman kemuliaan wanita itulah yang harus dimiliki. Mereka sebagai wanita sesungguhnya telah mulia sejak dulu hingga kini.

Pahamilah baik-baik yang telah Rasulullah sampaikan. Setelah itu implementasikan dalam diri melalui pemahaman yang utuh tentang sosok wanita yang seharusnya. Munculnya fenomena kontemporer, seperti persamaan hak wanita dengan pria tidak akan muncul jika pria dan wanita sudah paham posisi mereka di muka bumi. Laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang diciptakan untuk berelasi dalam kehidupan.

Mungkin kaum wanita akan marah pada Aristoteles jika dia tahu pada saat ini keterpinggiran perempuan salah satunya disebabkan argumentasi filsuf ini. Menurutnya, secara alamiah, nalar perempuan tidak dipersiapkan untuk berpikir luas. Dengan demikian, tugasnya adalah peran-peran domestik serta mengajar anak.

Selanjutnya sebagai pengukuhan kedudukan laki-laki, dia mengatakan, “Sesungguhnya kita mengawini istri-istri hanya untuk melahirkan anak-anak kita.” Boleh dikatakan, dia adalah penyebab pertama — tanpa mengesampingkan konstruksi sosial yang ada — proses peminggiran perempuan dalam masyarakat.

Hal ini jelas disebabkan kedudukan Aristoteles sebagai filsuf yang mengajarkan berpikir logis dan sistematis. Secara tidak langsung, peminggiran perempuan adalah sesuatu yang bersifat logis dan sistematis. Teori ini pun semakin mengguncang wacana dunia Islam setelah karya-karyanya dterjemahkan oleh Ibnu Rusyd.

Itu dulu, kemudian pahami diri sebagai seorang wanita muslim. Bagaimana dan seperti apa seharusnya? Masharul Haq Khan mengatakan, “Perempuan pada masa rasul tampil sebagai sosok yang dinamis, santun, dan bermoral. Dalam jaminan Al-Quran, perempuan bebas berkiprah dalam semua bidang kehidupan, tak terkecuali dalam bidang kepemimpinan[…] kita sudah berada pada masa yang telah menerima transformasi keagamaan dari rasul yang disampaikan melalui penerus-penerusnya.”

Itu haruslah kita pahami. Letak peminggiran dan kelemahan kaum wanita ada pada wanita itu sendiri dalam memahami Islam dan lingkungan. Tak ada lagi undang-undang Manu yang mengatur perempuan Timur Tengah pra-Islam berisi: perempuan sepanjang hidupnya tidak pernah memiiki hak-haknya sendiri dalam melakukan segala tindakan yang diinginkannya sehingga segala urusan domestik pun mereka tidak diberi kesempatan.

Wanita perlu memahami hal itu. Mari kita berpikir ulang.  Wanita berada di muka bumi adalah sebagai relasi pria dalam hidup, begitu pun sebaliknya. Visi universal adalah persamaan hak karena kita semua berasal dari satu ras, yaitu ras manusia. Inilah tugas wanita. Mereka adalah subjek dan objek sosial.

Hikmah dunia perempuan pun akan terjawab. Perempuan dapat menggali hikmah dari kenyataan bahwa Rasul tidak dikaruniai anak laki-laki. Mungkinkah itu terjadi karena agar tidak ada pengkultusan anak laki-laki dan perendahan anak perempuan pada diri Rasul? Mungkin juga lain, karena Rasul pun mendapat cercaan dan hinaan pada masa awal Islam ketika beliau tidak mempunyai anak laki-laki.

Kemuliaan wanita muncul bukan hanya karena dia mengandung dan membesarkan anak. Kehinaannya pun bukan karena wanita memiliki keringanan beribadah ketika mengalami haid. Tetapi, kemuliaan wanita terletak dari pemahaman identitasnya dan fungsinya sebagai wanita. Alhasil tak mungkin terjadi peristiwa wanita Anshor yang melayangkan protes pada Rasul karena tak memiliki majelis ilmu sendiri. Itulah kemuliaan wanita yang menegrti kedudukan wanita yang perlu mendapat ilmu sama dengan laki-laki.

Semua berawal dan berakhir dari pemahaman. Keterpinggiran perempuan dalam masyarakat bukan lagi karena konstruksi sosial. Tulisan ini pun bukan ingin menggurui, tetapi ingin mengajak wanita dan pria Muslim berpikir dan memahami. Pria dan wanita hidup untuk berelasi dengan pemahaman agama yang mereka miliki dan mereka sepakati. Semua dalam gerbang ke-Islaman yang utuh. Marilah wanita Muslim membentuk sebuah grand narrative dan pusat sejarah untuk wanita.

Ini tulisan lama yang pernah dimuat di http://kampus.okezone.com/read/2011/04/28/367/450892/wanita-yang-holistik

1 Komentar

Filed under Ceritaisme

One response to “Wanita: Mulailah Pemahaman Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s