Si Putih

Si Putih

Aku tidak terlalu ingat soal kejadian itu. Saat itu mungkin umurku kisaran lima sampai sepuluh. Tak tahu tepatnya, bisa lebih, bisa juga kurang dari enam tahun. Jelasnya, aku sudah bisa menangis dengan irama yang teratur. Menangis hanya sebab sakit. Bukan lagi menangis lapar, haus, ataupun ingin buang air. Terpenting, saat ini aku masih bisa mengingat, menjaga cerita itu, dan membaginya dengan yang lain.

Meski sulit kembali ke masa lalu. Sekarang ini aku coba mengingat kejadian itu. Kejadian yang konon membuat manusia merasa anak manusia itu penting.

Peristiwa itu dimulai dari perseturan seorang wanita dan lelaki. Hal yang masih kuingat jelas. Mereka bertengkar sepanjang hari. Tak ada waktu istirahat bagi mereka. Tak perlu waktu lama untuk membalas caci maki diantara mereka. “Dasar wanita jalang, pelacur murahan!. Ibuku pasti membalas sebelum jeda, “Kau yang bajiangan, lelaki hidung belang!”.

Saat itu aku hanya bisa terdiam. Sebab saat itu akupun belum tahu betul apa yang mereka katakan. Hanya saja ada suara yang berbalas-balas.Baru sekaranglah aku tahu betul yang diucapkan. Itu juga setelah aku mencoba mencocokkan ingatanku dengan dialog yang ada di film.

Juga aku temukan istilah untuk menyebut mereka berdua ketika itu; seniman ya seniman. Orang tuaku adalah seniman caci maki. Mereka berduet seperti diva di layar kaca, selalu berpasangan, saling membalas nyanyian, tapi ini cacian.

Perseteruan itu dimulai ketika keberadaan diriku di dalam perut seorang wanita, yang belakangan baru kutahu ada sebutan untuk wanita berisikan makhluk lain di perutnya. Hanya hitam, gelap, tetiba terang, dan suara bising mengitariku. “Cepat kau buang anak itu, aku tak sudi memilki anak anjing.” Meledak suara priaitu—belakangan juga aku tahu mungkin dia yang bisa kupanggil dengan ayah.

Wanita itu masih lemas setelah mengeluarkanku dari penjara gelap. Senyumnya yang lemah tak bisa disembunyikan. “Bagaimanapun juga ini anakmu, Rudi.”

“Peduli setan dengan itu semua. Aku tetap tidak menginginkan keberadaannya. Kita sudah sepakat untuk membuang anak ini dipinggir jalan setelah kau lahirkan. Ingat itu. Aku tidak menginginkan anak ini.” Lelaki itu masih terus

Semua itu aku ketahui dari temanku. Sosok yang menemaniku kapanpun dimanapun. Aku tidak merasa sepi.Dia berpakaian serba putih. Wajahnya cerah menerangi sekitarku. Dialah yang menceritakannya kepadaku. Dia yang kusebut malaikat putih.

Dialah yang menenangkan diriku tiap kali kudengar suara gaduh.

“Dia itu anakmu.”

“Tidak, dia anak anjing. Dia bukan darah keturunanku. Bisa saja itu hasil dari persetubuhanmu dengan laki-laku lain sebelumku. Aku masih berbaik hati menerimamu dan anak anjing itu. Ingat, dia bukan anakku. Aku tidak ingin melihatnya. Kubiarkan dia hidup bukan untuk menjadi anakku.” Percakapan wanita dan pria itulah kegaduhan yang selalu di dengar.

Sejak saat itu, temanku itu selalu mendoakan diriku agar Tuhan tak menjadikanku anjing.

“Kamu anak baik, anak yang lucu, makanlah yang banyak agar cepat besar dan melihat indah luasnya dunia.” Malaikat putih itu selalu berucap dengan membelasi rambutku yang terurus.

Baik sekali temanku itu, wajah yang putih itu selalu melegakan hati ini. Aku tak pernah meminta mereka untuk mendoakan diriku. Aku sudah pasrah jika memang nanti aku menjadi anjing atau seperti anjing. Tapi dia tetap saja mengucapkan doa-doa itu. Kembali membelai rambutku. Tersenyum manis dan selalu dekat denganku.

“Cukup sudah, cepat kau buang anak anjing ini. Kalau tidak, aku yang akan membuang anak ini.” Teriak lelaki dengan menarik-narik diriku dari pelukan wanita itu.

“Aku tidak akan membuang anak ini. Apa kau gila, meski anak lahir berkat bantuan tangan-tangan gaib sesosok hitam. Aku tak akan pernah membuangnya. Anak ini tetaplah anakku dan juga anakmu.” Balas wanita dengan suara cukup keras pula. Wajahnya ciut, takut, dan menderas air mata.

“Cepat buang atau kau juga ingin kubuang dari dunia ini.”

Wanita itu kali tidak membalas caciannya. Dia sadar bahwa ucapan laki-laki itu serius. “Biarkan anak ini hidup.”

Sesudah itu, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Aku tertidur lelah menangis. Sakit tubuh kecilku ditarik diperebutkan wanita dan laki-laki itu.

Entah berapa waktu mengalami kekosongan hati. Aku tak mendengar kegaduhan. Tak ada belaian juga suara lembut malaikat putih itu.Tak ada yang kukenal dan kuketahaui apa dan dimana sekarang ini. Semua gelap. Tak ada lagi cahaya dari malaikat putihku. hilang lelang dari penglihatan.

***

Tembok berjejar dan mengekang keras. Kini semua yang disekitarku adalah teman. Yang bisu, yang tuli, yang kaku. Sarang laba-laba yang menggantung di atas kepalaku. Semut-semut hitam yang sesekali lewat, membawa benda-benda yang tak pernah kutahu apa. Dan tentunya, sesuatu yang menempel di antara sela kedua kakiku, itu teman sejatiku.

Mereka semua sekarang adalah temanku. Sudah kubuang jauh-jauh wanita dan laki-laki yang kulihat dulu. Tontonan pertamaku saat mata terbuka. Mereka pun pasti telah menganggap aku tiada. Teman putih yang dulu, malaikat yang menenangkanku, setia tiada kira bersama doa kini lenyap membawa sepi. Aku sudah mempunyai tembok, dia yang mengajariku kekuatan.”Teman, kuat sekali dirimu. Tak pernah ada yang memanggilmu. Sejak kau ada disini sampai aku juga ada disini. Tapi tak pernah kulihat dirimu begitu lemah, kupukul dirimu sekuat apapun tak pernah kudengar kau mengeluh. Malah kau membuat mereka yang memukulmu merasa sakit.” Kutancapkan pada diriku ingin seperti dia. Dia yang begitu kokoh. Akupun ingin kokoh, kokoh tak berbicara. Kokoh tuli tidak mendengar mereka kegaduhan diluar sana. Meski sesekali karena dirimu aku sedikit kesal mendengar pembicaraan luar sana yang tak jelas apa artinya.

Daun jendela tak pernah bergerak untuk sekadar mengijinkan cahaya masuk. Kegelapan menghinggapiku, masuk ke dalam hati. Terkadang kucoba untuk mengintip keluar melalui celah kecil jendela itu. Kutajamkan mataku, kusipitkan pada satu titik. Tetap gelap selap  yang memanjang.

Mereka semua sungguh teman baikku selama ini. Sampai kurasa akhir-akhir ini ada sesuatu yang kurasa aneh. Entah kenangan atau petaka. Teman putihku dulu menghampiriku lagi. Dia tidak memiliki wajah cerah, apalagi berpakaian serba putiih. Ah aneh sekali,dia serupa denganku. Telinganya agak berbeda denganku, juga malaikat itu. Berjalandengan keempat kakinya. Dia berekor, padahal malaikatku dulu tidak memiliki benda asing itu. Aku pun tidak serupa dengannya. Ah, apa yang harus kupedulikan. Mungkin dia bisa jadi temanku dalam kekosongan.

“Kau makan ini, tanpa suara. Aku tak ingin laki-laki brengsek itu mengetahui keberadaanmu disini. Bisa mati, kau nanti.”

Disodorkan sebuah wadah berisikan sesuatu yang biasa kumasukkan dalam mulut. Benda yang kusebut sebagai penjinak kegaduhan dalam diriku. Aku makan bersama teman baruku itu yang setia mengajakku berbicara. Berkat dia aku tahu cara makan. Wadahitu dibiarkan dilantai, lalu kubungkukkan badan. Kuperhatikan jelas dia makan. Dia makan seperti sujud dengan tangannya menempel ke lantai. Makanan didepan mata. Kulahap makanan itu langsung dengan mulut. Dengan lidah ini terus menjilat, mencari-cari, terkadang kuikut mengonggong.

Apa yang dilakukan si Putih temanku ini, selalu kuikuti dengan baik dan cermat. Hanya Putih yang kumengerti, hanya dia yang kupahami, cuma dia yang mengajariku. Sejak saat itu pula, tak lagi ku mengerti kegaduhan luar sana.

“Guk, guk, guk.” Putih mengajakku berbicara dengan lidah menjulur keluar.

“Guk,guk, guk.” Kubalas dia dengan lidah yang terjulur lagi. Aku kalah panjang dengan lidahnya, aku tak mampu mengeluarkan cairan kental seperti dia.

Putih sama tabahnya dengan yang lain. Dia tinggal disini ketika sedang tidur saja. Ketika gelap semakin gelap. Saat hanya mata hati saja yang mengetahui keberadaan kita. Sisanya ia menemani sosok yang memberiku kegaduhan. Sosok yang tiap gelap mulai berada di pelupuk mata. Tak pernah telat untuk mengetuk pintu, melonggokkan kepala sedikit, lalu menyodorkan makanan untuk aku dan Putih. Lalu mengucap sesuatu yang kini tak lagi kutahu maksudnya. “Kau makan ini, tanpa suara. aku tak ingin laki-laki brengsek itu mengetahui keberadaanmu disini. Bisa mati, kau nanti.” Itu kalimat yang jelas-jelas kuingat.

Keanehan kembali hampir pada hidupku. Hidup yang menurutku sudah bahagia bersama Putih dengan teman putihku. Sudah kutunggu longgokan kepala itu. Kunanti dengan sabar, dengan kekuatan yang diajarkan tembok berjejar padaku. Tak juga mampir untuk menggeletakkan sepiring makanan untukku. Kesedihankupun bertambah karena itu bersamaan dengan tak pernah mampirnya longokkan itu, tak pernah datang juga Putih ke tempatku. Sudah tidak bisa ku hitung berapa lama. Sebab bagiku pergantian waktu adalah datang dan perginya si Putih dari tempatku.Entah, berapa kegelapan telah melintas tanpa kehadiran sebuah kepala, suara yang tak kumengerti maksudnya, dan Putih yang tak juga datang.

Kuterus menggonggong selama itu. Putih tak juga datang. Kepala itupun tak juga hampir. Aku tak merasa lapar, aku sudah biasa memakan benda-bendadi sekitar yang banyak beterbangan. Kegelapan menyedot tubuhku perlahan. Tubuhku terlihat hanya tulang dan hiasan urat kebiruan yang indah.

“Guk, guk, guk.” Aku memanggil-manggil Putih tiap kali kurasakan rindu.

Selalu begitu seterusnya. Kujilati tangan dan kakiku untuk menghilangkan kotoran yang menempel di tubuhku. Kinipun aku sudah berteman dengan yang lain. Tetap si Putih meski denagn wujud yang lagi berbeda. Si Putih menyatu dalam tubuhku. Menyatu bersama helai rambutku. Makin lama makin banyak teman putihku mengajak temannya yang lain untuk ikut menjadi bagian tubuhku. Biarlah ia menghiasi rambutku, aku senang karena aku semakin mirip dengan Putih. Juga bisa menjadi kenanganku deangn teman putihku dulu.

“Guk, guk, guk.”

Semaki gelap dan juga semakin tak bisa melihat kegelapan. Hanya detak jantung lambat yang bisa kurasakan. Juga kenangan kejadian itu dan itu. Selebihnya perlahan hilang.

***

Malaikat Putih itu kembali, dia memelukku erat. Si Putih juga juga tenang berada di samping malaikat itu. Aku melihat dari kejauhan, tubuhku dibopong dengan ramai orang. Orang-orang berseragam. Dan kegaduhan banyak sekali di bawahku.

Malaikat itu tersenyum, “Kini kamu sudah jadi anak yang baik dan besar. Mari kita lihat luas indahnya dunia.

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s