Belum Waktu

Mungkin sebab itu, kau memilih pergi. Menepi pada ujung paling sepi sebuah negeri. Tak ada hujan, tak ada harapan, apalagi kerinduan. Lantaran hidup ini hutan belantara yang rimbarimbun. Kaulepaskan talitali yang lama terhubung pada banyak perasaan. Hanya karena seringkali kau takut kembali, dan harihari seperti huruhara bising kota. Andaikata langit tak bertuhan, mungkin sudah kau sekap kehadirannya. Seolah resonansi yang merambat hatimu membawa jatuhripuh. Namun, tentu saja langit berawan itu akan menangis, menangis sepuasnya melihat kita tak berkata.

 

Seharusnya memang tak perlu menjadi kita. Saat kita belum siap menerima cuaca tak terduga. Bulan atau bahkan tahun bergulir pun seakan percuma. Kegamangan menjaga cinta adalah hampa. Ketika menyadari seluruh reaksinya menggasak sukma. Seperti kebanyakan pemabuk, kita pun akan mabuk pada yang tak nyata. Tak mengerti seakan syahdunya melihat pohonpohon meranggas. Betapa kau dan aku menari merapatkan jemari. Juga wajah menyungai sendiri, mendengar langkah dedaun yang bernyanyi. Seakan kau tubuhku dan kau rohku. Lagu singkat dari hempas angin bersimpuh rebah pada merahtanah. Semua seakan dimengerti tanpa berlamalama.

 

Tak seharusnya, sungguhpeluh pernah terbangun tubuh bernama kita. Bahkan ketika, hujan didahului pelangi. Lembahlembah randahpindah ke gunung. bergeming adalah harusnya, yang ringkuk dari liukmu. Dan dasarnya kita masih lemah, tak sanggup melepas ketas tunas melati seakarpun.

 

Dan sebab itu, kau melarangku. Menyebut namamu pada diamku. Sebab diam adalah keabadian tak bernama. Dalam kamar sepi kita kikuk, takluk pada sembilu masa lalu.

 

Pada pilihan lepas, kau pergi, aku menepi, kita sepi. Selanjutnya, Aku memilih mencintaimu dalam diam. Sebab suaramu begitu merdu nan syahdu. Tak patut aku mengganggu. Pada sapuan angin ingin, aku memilihmu dalam diam. Sebab belai tubuhmu begitu malu. Belum waktu aku memelukmu

Mungkin diam, sebab itu, kita berhenti. Kau dan aku dimiliki kita yang lain. Terkecuali Tuhan membebas waktu.

3 Komentar

Filed under Ceritaisme

3 responses to “Belum Waktu

  1. Reblogged this on Pena Ahimsa and commented:
    “Pada pilihan lepas, kau pergi, aku menepi, kita sepi. Selanjutnya, Aku memilih mencintaimu dalam diam.” — extremely nice :’)

  2. Reblogged this on Goresan Pointerku and commented:
    nice. aku suka tulisan yang ini kak:) izin reblog ya kak

  3. Ijonk Muhammad Adi Nugroho

    Dengan senang hati Ratna🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s