Lelaki Buta Cinta

Lelaki Buta Cinta

Di antara renyap-renyap debu terhempas angin, selalu saja terselip sedikit ingatan. Begitu pula dari keping-keping otakku yang kusut ini, ternyata ada kelopak yang melindungi ingatanku padamu.

Masihkah kau seindah dulu, seindah merah pipimu samanis gincu, seperti hendak berlomba dengan merah senja di alun-alun kota sehingga aku tak pernah bisa berhenti menatapmu. Mata bulatmu yang malu-malu mengendap perlahan di antara kelopak juga alismu, membuatku tergagap kaku dihadapmu. Masihkah kau begitu? Aku rindu.

Memang selalu saja ada kisah-kisah klise di antara milyaran manusia, termasuk juga kita. Tak ubahnya dua manusia dirundung cinta. Harus merasakan kutukan-kutukan cinta seperti para pendahulu penikmat cinta. Mungkin biar kita tak menyebutnya klise, atau mungkin basi dalam cerita cinta, ah ada-ada saja cinta itu. Dan akhirnya memaksa kita percaya bahwa dalam cinta segalanya ada.

Dan aku dengan maya barangkali kisah cinta yang klise itu. Seperti menambah jumlah skenario film-film tidak mutu.

Tapi kau harus tahu maya! Kau tahu kenapa ingatanmu masih terawat baik dalam kepalaku. Ini sebab janji gila kita, janji yang sepertinya main-main untuk kita yang masih lugu dulu. Kau bilang kita akan bertemu lagi, kau masih mencintaiku, begitu pula aku, dan aku menikahimu. Di taman itu.

Rasanya senang sekali aku mengingat itu. Aku bahagia membagi cerita klise itu kepada siapapun.

“Kau tahu kenapa aku masih mengingatmu.” Ucapku pada siapa saja, pada siapa saja yang mungkin ada di dekatku, yang barangkali memerhatikanku. Dan seperti biasanya orang-orang yang seperti biasa lalu-lalang di depanku dan bermain lempar koin.

“Kasihan sekali orang itu”

Aku masih duduk setia disini. Ttidak bergeming juga acuh kecuali setiap menandakan kehadiranmu.

Aku di sini menyebut namamu. Hampir setiap kali mendengar suara wanita yang samar samar sepertimu, aku panggil namamu. Barangkali itu kau, barangkali itu kekasihku yang selalu kutunggu. Dan setiap kali itu pula, aku berteriak “Maya, ini aku kekasihmu. Aku mencintaimu. Aku menunggumu untuk menikahimu”.

“Dasar orang buta”

“Iya orang buta”.

“Sembarang saja memanggil orang dengan maya.”

“Bilang cinta pula, najis.“

“Siapa sih orang itu?”

“Iya, dasar buta, orang buta bilang cinta, mana tau dia.”

“Semua wanita yang lewat sini pasti diteriakinya. Mencintailah, menikahimu lah. Mana ada yang mau menikah dengan dia.”

Aku mendengar Bisik-bisik di antara pengunjung taman. Bisik-bisik yang hampir selalu sama setiap kali melewati aku berteriak kepada maya.

Dan begitulah setiap kali aku dengar suara samar maya, kukatakan dengan lantang aku mencintainya. Tapi aku tak peduli, barangkali saja di antara mereka betul-betul ada maya. Mayaku dulu yang sering aku selipkan bunga-bunga taman di silang telinganya.

Di taman ini, ingatan seperti sudah disiapkan bagi siapa saja yang ingin merasakan kerinduan. Bunga-bunga yang harum, panas terik matahari, sampai senyap-senyap kunang, aku tahu betul merekalah penjaga kenangan itu. kecuali mungkin warna mega senja di penghantar malam. Kutahu warna itu hanya ada pada pipi maya. Juga angin yang seranai sudah menepi dihempas helai rambutnya yang melayang-layang.

Semua mengingatkanku padamu. Juga ingatan perihal diriku yang diteriaki buta. Ini bukan pertama kalinya. Aku ingat betul ibuku juga seringkali mengatakan hal ini.

“Kau ini kecil-kecil sudah main cinta. Apa jadi sekarang dirimu sekarang? Buta!”

Ya, ibuku selalu mengatakan hal itu. Aku buata karena cinta. Mataku yang dulu mungil kecil seakan tak lagi kenal warna. Aku hanya ingat setelah tertidur lama, ibu sudah memarahiku dengan kerasnya.

“Kau buta karena cinta.”

Padahal aku tidak pernah merasa buta. Aku masih ingat betul, masih bisa melihat dengan jelasnya bagaimana maya meninggalkanku. Kereta merah kesumba yang catnya agak berkarat membawa kekasihku. Asap kemebul hitam pekat yang menggunung dari atas gerbong. Semua nyata dan Nampak terekam pada bulat mataku.

“Kita bertemu 20 tahun lagi di taman itu.”

Wajah mungil maya yang lama-lamat terselip dari kaca jendela kereta menyembul kepala gadis kecil

“Jangan lupakan aku.” Teriak maya yang sampai sekarang kuingat.

Lambai tangan itu, merembes angin memanggil air mata. Mata tak berkedip sedikitpun. Hanya sedikit bulirnya yang perlahan merambat pada lekuk hidung kecilku. Menebas tipis alis. Perih bola mataku, tak berkedip juga aku. Tak ingin ku lewatkan sedikitpun.

Celah jemarinya itu adalah celah jemariku. Wajahnya semakin jauh dan semakin mengecil. Hanya titik hitam tersamar semburat sore. Dan kau pun hilang ditelan rel-rel kereta yang panjang.

Aku masih berdiri, menatapmu tak lepas. Kaku tubuhku. Berganti hari bertambah bulan aku masih berdiri. Tak kedip mata kecilku yang kain hari mengering. Lupa aku bagaimana caranya memejam. Hanya tahu aku harus sedia mata yang sewatu-watu kau kembali.

Mataku sudah lama tak berjumpa siang, kini hanya malam yang kukenal. Stasiun tempat kita berpisah pun kini sepertinya sudah berganti cat menjadi hitam. meski aku masih belum bisa melihat dengan jelas dimana loket dan dimana peron kita sempat bergandengan.

Sampai akhirnya ku dengar suara ibu. “Kau buta, nak! Peluk ibu yang keras dan tak pernah mengerti. Membasah wajahku.

Aku masih bisa melihat. Aku masih bisa mengingat

Aku menunggumu disini, sebuah tempat kau janjikan. Langit hitam, bunga-bunga hitam, burung-burung hitam, dan segala rupa yang kupastikan disini serba hitam. tempat yang kita sepakati akan bertemu lagi. Aku menunggu dengan sabar. Menunggu mayaku. Tak sabar aku bertemu denganmu. Sudah dimanakah dirimu?

Seperti halnya laki-laki pada umumnya yang mencintai keksaihnya, begitu juga tentunya aku. Mencintaimu yang tak pernah habis terkikis. Wanita yang pertama kali aku cintai dan kasihi Sengaja aku datang lebih awal dari waktu yang tentukan dulu. Aku ingin menambah debar derap dadaku ini. Ah, tentu hampir mati aku menantikan waktu ini.

Maya yang cantik, tercantik yang pernah kukenal, yang pernah kutemui dan kulihat. Selama hidupku kaulah wanita paling indah yang kutemui sebelum akhirnya Tuhan ciptakan dunia begitu hitamnya. Aku disini menunggumu tanpa ragu dari waktu-waktu.

Maya yang kusayang, semoga kau tak lupa besok kita akan bertemu. Sebab aku tidak lagi tahu sekarang tahun berapa.

Ilustrasi Soraya Ahda Arina

Tinggalkan komentar

Februari 4, 2013 · 1:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s