Meja Makan

 Dan duduk kembali kita, pada deret kursi tua juga meja makan yang lama kita lupa. Terakhir kali, saat kayu-kayu masih kucium bau madu, juga bangkubangku masih kurasakan dingin kalbu, kita tak bisa saling menggapai tangan. Hanya mencoba melempar kue bolu kecil pada legi wajah mungilmu.  Aku tertawa dan kau mengeluh manja. Seakan harus bertanya, siapa yang tega membuang kisah lama. Meski kadang cinta membawa luka, cerita asmara memberi sedikit jeda. Bahwa kisah begaimanapun dia memberi resah, tetaplah anugerah yang harus kucaricari cara terbaik menikmatinya. Maka setiap kisah, yang kerap di akhir harus berpisah, aku harus memberi tempat di hati meski sebilah.

Kini aku tak lagi mampu melempar kuekue buatan ibu: saat terhidang hangat dan kau singgah di rumahku.  tanganku tak mampu menggapai lain sebab tergenggam jemarimu. Jemari yang kuberi arti, separuh hidupmu sibuk memendam  sepi.

Sering kau makan dengan satu garpu, hanya sebilah garpu yang kau anggap cukup mampu menangkap seluruh waktu. Lalu aku bersikeras dengan sendok sebagai satu-satunya alasan yang kumiliki untuk melupakanmu rontok begitu saja. Aku dan kau hanya sendok garpu, berbeda segala dengan berkeras saling memiliki memberi makna.

2

Entah kapan waktu kita mencoba membelah dendam

Pisaupisau dapur bergumam tersangkut kain penutup meja

“kenapa aku hanya menjadi yang kesekian dari yang terbiarkan?”

Tak ada jawab selain menjadi buah kiasan, kau genggam gagang pisau

Biar aku peluk dua mata pisau yang mengaliri duka kita

Rantangrantang makanan siap menangkap rana kita, bagai kuah kehidupan

segarnya mendesak jiwa ke batas dahaga.

Mari makan di meja ini yang luas berukur nasib. Lebarnya selalu disalib rindu

panjangnya kian mengikuti jalur kenang.

Kau duduk aku berdiri, semua serba hampa terhalang meja makan tua.

 

3

 

Selamat berbuka,

Kau kirimkan aku sebuah kata pengantar, dari adon kuekue ibuku dulu

Kini aku dengan meja makan berbeda juga lemparan kuekue dari ibu, ibu anakanakku

Selamat berbuka

Aku membaca kau yang sampai di batas antar, dari jalan luapan yang kita pernah beri nama kidung mendung

Andai meja ini cukup luas, akan kuajak kau makan bersama kami, dan melihat sup duka kita, memberi bahagia dua manusia muda.

 

Di meja makan kita memulai kenangan, aku tertawa dan kau menangis manja

Di meja makan kita memutar kenangan, aku diam beku dan memendam rindu

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s