Menggagas Pemimpin Muda

Sumpah Pemuda adalah momentual abadi. Keberadaan pemuda sebagai pengagas persatuan Indonesia adalah coraknya pada saat itu. Organisasi pemuda yang bercirikan nasionalis kedaerahan berubah menjadi nasionalis keindonesiaan. Satu hal, bahwa perubahan nyatanya diprakarsai oleh kepemimpinan pemuda. Menggagas dan menyiapkan pemimpin muda adalah investasi masa depan paling berharga.

Setelah 83 tahun berjalan. Pemuda Indonesia perlu merefleksikan kembali keberadaannya dalam pembangunan Indonesia. Kepemimpinan adalah hal yang penting dalam pembangunan. Tapi, perlu diakui bahwa kepemimpinan juga masuk dalam deret krisis yang dimiliki Indonesia. Kaum tua dianggap sebagai kaum feodal yang tak bisa berpikir maju dan kreatif. Belakangan, tergugatnya kaum tua karena dianggap belum berhasil menuntaskan agenda reformasi serta masih terbebani dendam politik masa lalu.

Tapi, perlu diakui kepemimpinan pemuda pun tak lepas dari gugatan. Berdasarkan survei dari LSI, hanya 24,8 persen responden yang mengakui bahwa politisi muda yang berkiprah saat ini berperilaku baik. Namun, 75, 2 persen sebagian tidak menjawab dan sebagian lagi menilai buruk. Catatan tersebut bukan tanpa alasan. Nazaruddin adalah contoh paling mencolok yang mengidentikkan sosok pemuda yang sudah menjadi bendahara umum partai besar namun terlibat kasus korupsi. Meski disatu sisi bisa jadi kegagalan pemimpin muda kita karena terperangkap dalam sebuah sistem politik Indonesia yang buruk.

Meski begitu, kaum muda masih banyak waktu untuk terus memperbaiki kualitasnya sebagai pengisi pembangunan bangsa. Setidaknya, dalam konteks kekinian kaum muda dapat merepresentasikan wajah baru serta membawa ide-ide segar untuk negara. Kaum muda adalah pengisi masa depan tanpa terbebani beban masa lalu yang penuh dengan politik sandera dan kepentingan individu.

Dalam kiprahnya sebagai pemimpin bangsa, menggagas pemimpin muda harus diberikan situasi yang kondusif. Pencapaian-pencapaian tampuk kepemimpinan haruslah beroleh dari kompetisi yang baik. Bukan berasal dari welas asih tokoh tua yang memberi jalan pada kaum muda sebagai pengisi trah kekuasaan. Apalagi, dalam pasal 16 Undang-undang No. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan disebutkan bahwa pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Penggaasan pemimpin muda pada akhirnya haruslah dimulai dari aktivasi organisasi pemuda secara baik. Dengan konsep Aristoteles, manusia sebagai animal political, maka institusi kepemudaan perlu ada melakukan konsolidasi dengan instrumen-instrumen demokrasi secara total, guna terciptanya perubahan yang reformatif san transformatif. Harus diakui, semangat demokrasi Indonesia dalam kurun belakangan ini adalah masa-masa yang penuh inspirasi dari tingkat lokal sampai nasional yang digerakkan pemuda. Pemuda haruslah memiliki komitmen tinggi yang berbasis moral dalam kesehariannya ditengah kesadaran politik Indonesia.

Tak bisa dipungkiri kiprah pemuda di perpolitikan adalah buah pengalamannya saat berkiprah sebagai mahasiswa ataupun di organisasi kepemudaan. Pemuda pun adalah sosok pemberontak untuk perbaikan sebuah bangsa. Karakternya berisikan keuletan penggarapa proyek segara ketimbang yang mapan. Maka, menggagas pemimpin muda adalah keniscayaan dan keharusan.

Tinggalkan komentar

Filed under Sosial Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s