Mari Bersepakat

  Mari kita berspakat, untuk tidak bersepakat. Bahwa jalan panjang kita, bukan sekadar main belaka. Yang kita sepakati adalah, jalan ini kita yang ciptakan, untuk akhirnya kita yang tentukan sampai batas mana kita akan terus berjalan menuju kepastian. pejalan kakinya kau yang membawa, sekadar pengingat kau bilang, kalau kita bermesra kita tak lupa jika jalan ini bukan hanya milik kita berdua. Ada sejoli- lain yang juga sedang berjuang dengan cintanya. Dan kita bisa berbagi tentang makna cinta yang berbeda. Halte dan trotoar aku yang ciptakan. Berikan pewarna indah dengan tempat melepas lelah yang menyejukkan. Aku bilang, dalam jalan yang panjang ini, kita kadang perlu berhenti sejenak. Untuk mengusap peluh, atau mungkin mengeluhkan perjalanan cinta kita. karena cinta adalah perjuangan yang menguras keringat. Membakar emosi dan menguras pikiran dari masa lalu sampai masa yang entah kita cita-citakan. Lalu perlu juga rasanya memerhatikan perjalanan orang lain. Toh kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Bahwa cinta kita kita tak terus berlari kencang. Cinta juga perlu pelepas dahaga, sekadar pengisi tenaga, untuk selanjutnya kita kembali berjalan menuju kepastian. Dan seringkali Aku ini orangnya mudah berubah, tapi tak pernah berubah untuk tidak lagi mencintaimu. Bukankah kau juga mengiyakan hal itu. Dan kita membicarakannnya dalam ruang sederhana, tempat kita berhenti sejenak, mengingat-ingat kembali perjalanan panjang kita. Bukankah cinta dimulai untuk sebuah kepastian. Dan juga jalan panjang kita, di akhiri untuk menentukan , apakah aku dan kau memliki rasa cinta yang sama. Mari kita bersepakat, kali ini dengan genggam tangan yang erat. Bahwa kita memulai cinta untuk terus selama-salamanya. Dan akhirnya, biarlah pohon dan kupu-kupu yang mencatatnya. Tertera dalam warna sayap, dan berpangkal dalam manisnya buah-buah surga. Lampu-lampu kota, mereka tumbuh dengan sendirinya, karena melihat begitu indahnya kita belajar cinta. Kau menyanyikan kata-kata indah dari awal kali kusuka sampai kini kita sedang berpeluk mesra. Lalu aku, begitu syahdunya menggoreskan kuas-kuas, memandang cat-cat merah yang ranum bak bibirmu yang malu, dan kanvas terus menampakkan wajahnya yang rindu. Semua itu karena aku, yang cinta tanpa ragu, dan kamu, yang terus belajar mencintaiku.

1 Komentar

Filed under Aforisma, Puisi

One response to “Mari Bersepakat

  1. dahsyat.. rangkaian kata yang jarang aku temui pada larik-larik puisi ataupun narasi..
    salam dan Do’a selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s