Mengisi Toleransi

Indonesia bukan sekadar Jakarta. Apalagi memandang Indonesia hanya dari kerusuhan Ambon dan bom bunuh diri Solo. Indonesia adalah sebuah kumpulan yang memiliki banyak kesamaan untuk mencapai bangsa yang damai. Dan kedamaian harus dididik sejak dini sebagai harta paling berharga. Dan toleransi perlu diisi secara regenerasi.

Hakikatnya, perdamaian terwujud karena perbedaan. Dan masyarakat Indonesia lahir dari dua entitas besar, yaitu keberagaman dan keberagamaan. Alhasil, wajar adanya sebuah kecenderungan untuk saling menonjolkan identitas masing-masing, baik secara agama maupun budaya. Hal inilah yang menjadi potensi konflik dan perlu dihindari. Terlebih bila ada sebuah kecenderungan kelompok sosial merasa lebih dari kelompok yang lain. Kasus inilah yang terjadi pada kerusuhan Ambon, kekerasan SMA 6, dan juga bom bunuh diri Solo.

Bangsa Indonesia sejatinya bukanlah negara agama apalagi sekuler. Pancasila lahir dari Founding Father kita untuk menaungi itu semua. Urusan keagamaan menjadi hal yang jamak menjadi pakaian masyarakat dan tak jarang perkara agama antar warga menjadi perkara negara. Lain pihak, kerukunan adalah hal yang patut dijunjung. Toleransi wajib diisi di antara sesama baik tingkat struktur kelompok masyarakat desa sampai kota. Dan pancasila adalah tools yang patut ditanamkan sebagai bentuk kerukunan aktif, ada tindak pro aktif dari mayoritas dan minoritas.

Ernst Renant menyebutkan bangsa hakikatnya lahir dari masyarakat yang memiliki kesamaan di banyak hal dan juga melupakan banyak hal. Satu hal yang sama adalah keterjajahan bangsa kita dari imperialisme. Lalu, melupakan banyak hal salah satunya keberagaman bangsa yang bukan saja dari segi agama, tapi juga bahasa, adat, dan budaya. Dua pokok itu perlu dikelola, sehingga akhirnya menjadi poin toleranasi. Pun menjadi latar belakang lahirnya pancasila. Tertuang dalam kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai wujud dari keinginan untuk saling menghragai. Dan persatuan Indonesia karena ingin kebersamaan di tengah keberagaman.

Mengisi toleranasi belum selesai setelah kita memahami adanya keberagaman dan keberagamaan kita. Selanjutnya, haruslah ada sebuah pengakuan identitas kelompok maupun pribadi dari sebuah kontak sosial. Meminjam kalimat Edward Said, bahwa tak ada alasan kecuali rasa takut dan prasangka, untuk terus menerus menegaskan keterpisahan dan kekhususan, seakan-akan hanya itulah urusan hidup manusia. Itulah faktanya, jauhnya kata damai karena perbedaan sudah tertanam dari sak wasangkan manusia. Maka, mengisi toleranias harus lahir dari regenerasi yang rukun.

Faktanya, rasa satu ‘Indonesia’ belum cukup menjadi pengikat. Meski pancasila masih kita anggap sebagai pegangan hidup dan alat toleransi bangsa. Aparat negara sebagai pihak eksekusi demokrasi bertanggung jawab penuh terhadap kerukunan aktif warga negaranya. Tak sekadar menjadi alat yang berhenti pada kekuasaan formal, dan di sektror kultural egoisme identitas terus berlangsung. Jangan sampai institusi negara malah mendenstruksi benih-benih perdamaian.

Pada taraf peradaban, perdamaian sebagai wujud homogenitas yang heterogen menjadi keniscayaan. Unsur-unsur objektif dari bahasa, adat, agama, sejarah, sampai institusi adalah ruang-ruang kosong bangsa ini yang perlu diisi dengan toleranasi. Damaipun bukan ilusi.

*Tulisan ini dimuat Harian Seputar Indonesia 28 September 2011

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s