Diam

Duduklah, mari kita ingat ingat tanpa menolerir sedikit pun angin mendesir tanpa permisi dibibir telinga. Perihal silangnya kaki kita dan runduknya mahkota pada hakikat yang lampau. perkara alpanya kita pada hari-hari yang begitu saja berjalan, berlari, dan menari di ladang bulan, lalu kita berdiam dan menepuk bahu serta mengusap mata.

 

Mari kita masuki jendela pikir,

Supaya hati hendak sampai ke hilir, dan biji-biji sawi terus bertunas tanpa hirau kalau langit masih terang, dan bulir air khilaf pada takdirnya

Mari kita berenang ditengah awan,

Dan mencari sulur-sulur udara yang mengusap lentik mata dihari yang berdesakan bulan

 

Dan malam  mengajarkan diam

Tentang tiga urat otot pekerja hutan yang membiarkan landasnya dua tiga sayap nyamuk dihamparan kulit, tanpa menghiraukan sebanyak apa dia menyerap darah, dan dia terus mengasah kapak pohon dan hari esok berbatang pohon siap merebah ke tanah

 

Dan malam mengabarkan diam

Ada seorang yang menyila di rumah Tuhan balik bilik mihrab tua itu. Lalu laba-laba hinggap ditubuhnya menanam sarangnya, merambat dari telingan sampi mata. Dan hidupnya menampung air dari yang bergulir di simpang kelopak dan gelambir mata itu.

 

Dan malam berpuisi

Kau tak perlu rasakan sepinya diam

Membiarkan rindu tanpa doa

Pepohon pun tak tau rasanya derita

Karena luka sekadar cerita dan penguat jiwa

Sebab diam telah lupakan getahnya

Diam itu pengantin pria yang siap memasangkan cincin pada jemari manis mempelai

Tanpa tahu entah kapan tersematkan buah manis itu

Diam itu sepasang merpati yang berkencan di pinggir sungai tanpa hirau buaya telah mencabiknya menyisa ragu

 

1 Komentar

Filed under Aforisma

One response to “Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s