Dilema TKI

Masihkah kita punya harga diri. Saat TKI kita, sang pahlawan devisa tak mendapat perlindungan selayaknya di luar negeri. Tapi, uang pemasukan terus mengalir ke kas negara. Ironinya, permasalah klasik ini seakan mendapat angin segara saat Presiden SBY menyampaikan pidatonya pada sidang ILO di Jenewa bahwa Indonesia telah menghormati buruh migran. Dan ironi, pada tanggal 18 Juni TKI Indonesia di Saudi, Ruyati, di eksekusi mati. Pidato Presiden SBY pun jadi ilusi.

Semua bertanggung jawab terhadap nasib TKI ini, baik itu masyarakat atau pemerintah sebagai pewenang utama. Sumbangan TKI bagi negeri ini sungguhlah besar. Ketika pemerintah bingung menyediakan lapangan kerja bagi warga negera, justru TKI memilih pergi bekerja di dluar negeri. Bukan itu, kepergiannya yang mengurangi beban pemerintah justru dapat  menghasilkan devisa bagi negara. Meski perhatian dan kepedulian pemerintah pada TKI masih jauh api dari panggang.

Bayangkan saja, data dari BI menyebutkan bahwa jumlah uang yang dikirim TKI dari luar negeri ke Indonesia (remitansi) hingga september 2010 mencapai 5,03 miliar dollar, naik 2,44 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2009 yang sebesar 4,91 miliar dollar. Sementara, menurut Bank Dunia, pada tahun 2010 remitansi yang terjadi mencapai 7 miliar dolar. Angaka yang lebh tinggi menurut data remitansi dari BI yang hanya sebesar 673 miliar dollar.

Salah satu yang harus dibenahi untuk mengurangi paradoksal dan ironi TKI ada di tangan BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia).dengan fakta 80 persen persoalan TKI berada di dalam negeri, BNP2TKI berwenang untuk menentukan penempatan dan juga memonitor perkembangan yang ada. Ini menjadi penting karena TKI kita tiap tahunnya selalu saja ada yang menjadi korban.

Sayangnya, perlindungan TKI tidaklah menjadi prioritas dan bertolakbelakang dari sumbangan TKI bagi devisa negara.  Data Puslitbang Ketenagakerjaan Depankertans pada 2007 mencatat hanya 42% yang menyelesaikan kontrak kerjanya, lalu 25%nya bekerja kurang dari 2 tahun akibat bermasalah dan cuti. Belum lagi selama penempatan terdapat 15,7% TKI mengalami beragam masalah: kekerasan fisik, tidak diberikan tiket kembali ke Indonesia, gaji tidak dibayar, pelecehan seksual, bahkan di UEA dan Yordan tidak mengenal libur dan terpenjara dalam kerja karena 60% TKI bekerja di atas 12 jam sehari.

Ruyati menjadi yang terbaru, bukti lemahnya pemerintah dalam melindungi TKI kita. Kasus ancaman hukuman mati bukanlah hal baru bari bagi TKI Saudi. Namun, kasus sebelumnya respon pemerintah terbilang baik. Contohnya, TKW asal Madura, Siti Zainab pada tahun 1999 dapat digagalkan karena Presiden Gus Dur langsung menelepon Raja Abdullah ketika itu.

Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya sekadar membuat satgas, dan menambah koleksi satgas yang ada namun efeknya tak berada. Perlu ada perbaikan sistem monitoring terhadap TKI adalah penting. Per tahun kenaikan jumlah TKI mencapai 596.115 orang. Kebanyakan tersebar di Timur Tengah dan Malaysia. Dengan monitoring pemerintah dapat memetakan penempatan TKI sesuai prioritas, kapasitas, dan kebutuhan. Fenomenanya, sekitar 80% sumber persoalan TKI berada di dalam negeri. Dapat dikatakan persoalan TKI banyak berkaitan dengan tahap penempatan dan paska penempatan. Lanjutnya adalah optimalisasi fungsi sosialisasi perekrutan calon TKI yang akhirnya dapatr meningkatkan kesiapan TKI.

Uapaya terbaru dari BNP2TKI dengan meluncurkan call center bagi TKI memang patut dihargai meski terlambat. Tapi, BNP2TKI seharunya lebih fokus pada upaya pembenahan kualitas TKI dan juga persiapan TKI kita sebelum ditempatkan di negara tujuan. Harus ada keseriusan melakukan tracking dan publikasi penempatan TKI dengan baik. Selain itu, pembenahan dengan mempersiapkan tenaga kerja dengan ilmu pengetahuan yang lengkap adalah hal yang penting. Semoga dengan efektivitas BNP2TKI dalam melakukan penyiapan serta penempatan TKI, perlindungan terhadap TKI menjadi lebih mudah. Dan TKI pun tak sekadar menjadi budak.

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s