Anomali Jiwa

Dengan segala rasa konsekuensi sejarah.

Anak bangsa tengah mencari bapaknya,

Hingga darah bertulang, dan tangis mengering.

Namun, darah tetaplah terus mengalir

Tak terbendung

Mencari jantungnya

Menemui otaknya

***

Sejarah ini bukan milik siapa-siapa.

Bahkan untuk setiap jejaknya. Berbalut kain-kain keringat

Dia bermakna karena kita beri makna. Untuk mewarnai masa depan kita.

Hingga rasanya saat ini. Masa ini milik kita.

Membuat peristiwa besar dengan jari-jari kita.

 

Pagi ini rasanya bukan seperti biasanya. Tak ada pertanyaan cerdas: apa yang akan kau lakukan hari ini. Melainkan hanya sebuah retoris nyata. Persiapan kematian apa yang kau sediakan jikalau dia datang hari ini.

***

Sulit rasanya membentuk sikap dia.

Tapi tak sesulit mengajarinya bertindak nyata.

Sediakan saja sikapmu yang baik

Keemasan datang menyusulmu

***

Mimpi ini pun terkadang anehnya. Menatap sebuah badan. Yang harus bergerak dan menggerak. Namun, memilih untuk bersuka ria semata. Saat kebijakan perlu dikritisi dan dicari solusi. Dia lebih memilih mempertahankan kebenarannya. Dasar bodoh. Baju saja pintar dan prestise. Haha. Lebih banyak permisif dan apologis. Dan aku maaf saja. Melihatnya aku memilih apatis untuk sesuatu yang bersifat bombastis. Bukan seperti dulu. Yang berwujud pohon oak, aku melawan arus. Memlih mana aku ini. Ikut arus atau apatis. Aku adalah pelawan arus. Yang terkadang apatis karena demi sesuatu yang mistis.

Tapi, biarkan saja. Disana memang banyak penggemarnya. Quo vadis begitu lama. Status Quo sebuah masa. Adalah senjata utamanya. Demi sang penggemar, bergerak secara menyenangkan. Perlahan mematikan hati nurani mahasiswa. Wujudnya dimana. Yang baik tentuny. Dan semua mengenalnya baik. Meski boroknya telah dihinggapi belatung. Dan itu, kalau saja butuh waktu sesaat akan memutuskan kakinya. Sungguh tentu, tinggal menuggu saja perjalanan mahasiswa pincang sebelah.

***

Kita ini sama-sama muslim. Atau mungkin lebih senangnya. Aku ini orang Indonesia. Dan kamu orang Indonesia. Masa cinta saja tak terberi. Bair makna aku yang salami.

Aku ini orang pribumi. Tulen, baik secara Indonesia, ataupun universitas Indonesia. Tapi, kenapa. Cinta saja mau dibuat berbeda. Padahal aku ini bekeyakinan seperti Gie. Kita ini berbeda dalam segala hal, kecuali dalam cinta. Namun, sayangnya, cinta itu pun kita berbeda. Berbeda dalam memaknai. Berlainan dalam merasakannya. Hingga tunggu waktunya saja. Aku mengkudeta. Wahai cinta.

***

Aku indoneia asli. Tanpa karbit, apalagi buat-buatan. Terkadang seperti macan. Yang mengaung dan terkadang mengeong. Hanya demi sesuap cinta.

Aku asli. Muslim asli. Indonesia asli. Anak kampus ini. Asli. Tapi kenapa kamu khianati. Asli tanpa sedikit pun yang melunturkan rasa itu. Demi kebanggan almamaternya. Demi kecintaan bangsanya. Demi kekuatan agamanya.

Aku pun muslim. Yang penuh dengan sikap liberal yang bagi mereka liberal. Mengarungi rasa moderat dan pluralitas atau bahkan dengan feminism. Aku rasa aku ini muslim. Dengan segala konsekuensi menyeluruh. Di dalamnya ada liberal itu, moderat itu, atau entah apa namanya yang lain

Aku juga tulen anak kampus sini. Kampus Kuning. Jadi kalau anda bermacam aneka mempermainkan kami. Tunggu dengan segala pukulanku. Termasuk kamu yang bercokol dijauh sana. 13 memang angka sial. Apalagi saat ini. Semakin membuatu marah. Terlalu banyak bermain aman. Aku pun memang tidak banyak berbuat. Tapi aku sedang menunggu. Layaknya Tuhan yang sedang menuggu mimpiku selanjutnya. Tapi, ini telah mematikan semangatkku. Mngorbankan sepotong jari hanya demi seuats tali pertolongan. Membiarkan matinya rusa ditengah kijang. Meski itu semua bisa kita selamatkan. Dan aku kesal dengan diriku. sepertinya, dirimu tengah mati, Nak. 7 angka kesanganmu, tapi kini terbuang. mungkin hanya kenang. Nanti!

***

Aku bukan siapa-siapa. Yang terus mencari meski telah terberi. Aku bukan sebatang bambu. Yang kuat kadang mengikut. Bukan pula oak yang beda arus. Rasanya didalamnya. Ada benih Rasulku. Ada sedikit goresan Marx. Tambahan sedikit bumbu Soekarno. Dengan tumbukan beberapa racikan Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Menguap dalam raga. Merasuk inti sukma Jiwa. Berkatalah, meski hanya dihati. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan bukan diriku sendiri. Tapi, dia menyatu komunal.

***

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s