Jujur dan Nakal

Sekitar setengah abad yang lalu, Iwan Simatupang berkoar dan beretorika tentang kebebasan penyair dan imbasnya bagi masalah tanah air. Saat diseberang ruang lainnya Jean Paul Satre sedang berkutat dalam menguak dunia menulis dan membaca. Bagi satre tiap hari hidup adalah sebening Kristal. Dan kini, adalah sebuah niatan untuk mengajak mengkristalkan masa-masa empiric kita dalam sebuah kitab. Menggoreskannnya menjadi sebuah sekelumat tubuh kata. Dia membawa misi kepengarangan, JUJUR dan NAKAL.

Pengalaman itu hanyalah bumbu bagi manusia. Dengan segudang fenomena yang patut dimumikan dalam tembakan kata-kata. Hanya untuk menunjukkan esksitensi manusia. Toh, Viktor Hugo sudah berceloteh, manusia sudah menerima hukuman mati tanpa mengetahui hukuman mati ini akan dilaksanakan. Dan sejalan dengan Heideger bahwa kehidupan manusia hanya eksistensi menuju kematian. Maka mari ledakkan bom kata dan emosimu sebelum kau mati tanpa makna.

Saya hanya ingin mengajak. Mari berkelahi mari saling membunuh.mari berdansa menikmati fananya dunia: semua dengan kata di atas kertas.

Dengan kejujuranmu aku terima sebuah pencapaian nilai. Aku terima sebuah misi yang tulus darimu. Menciptakan dunia baru di gelambir horizon mata.Dengan kenakalanmu aku terima sebuah refleksi kreativitas. Aku katarsis.

Mungkin dengan kata: kita mampu menggugat dunia. Ketika tuhan dapat ditentang. Saat nabi dapat dipalsukan. Tak dapat dielakkan lagi imajinasi pun dapat diberontak. Mungkin dengan sentuhan kata kita: dapatlah muncul Pram baru dan Rendra baru. Mungkin dengan kata kita: akan terjadi era jaman lalu dengan pengekangan kebebasan. Berjujurlah kita sebelum jujur itu dilarang. Bernakal ria lah kita sebelum nakal itu dilarang.

Kejujuranmu adalah mahkotamu sebagai penulis. Ketika para birokrat telah kehilangan tanggung jawab. Saat orang-orang hedon kehilangan tempat untuk mengucapkan nuraninya. Kejujuran adalah mahkota itu. Setiap raga kepengaranganmu adalah bersumber pada nurani. Karena kita berpihak. Keberpihakan pada hati nurani.

Kenakalanmu adalah senjata nuklir bagimu. Dia lebih berharga dari tingginya Burj Khalifa. Dia adalah entitas tertinggi dari manusia. Kreativitas dengan kenakalan adalah sebuah pencapaian tertinggi dalam ilmu pengetahuan. Dia murni. Dia suci. Datang dari keberpihakan manusia pada nurani. Merekam jejak realitas social. Senjata untuk mengungkapkan hidup. Dengan nakalnya kita membedakan diri kita dengan lain. Inilah mimesis tahap sentral selain akal, alam benda dan karya.

Dengan kejujuran dan kenakalan. Ku bersepakat dengan Elie Wiesel bahwa ini adalah sebuah momen: Memahat Kata, Memugar Dunia.

Dengan kejujuran dan kenakalan maka kita mebongkar kebekuan dunia makna. Dunia ini bukan sekadar nencari makna niatan sang Ilahi dan makna muatan bagi pencari. Ini bukan sekadar berkata seperti Tolstoy “Tuhan Maha tahu, tapi menunggu.” Tapi ini sebuah pencarian sebagai seorang aku yang dipenuhi selimut muslihat. Ini menjadi pembentukan individu aku dengan beragam fungsionlanya, jujur dan nakal. Aku sedang mencari kebenaran. Kebenaran dengan ‘K’ besar. Bukan Cuma ‘K’ kecil yang dapat diperebutkan hak miliknya.

Ini soal perjuangan moral kolektiv. Tak sekadar bercoret dan membuat. Ini menciptakan dunia. Menghadirkan dunia baru yang bersih dari kekotoran dosa sejarah dan dosa masa depan.

Semesta verbal dengan makna jadag rayanya. Buah dari kejujuran dan kenakalan. Wujud dari mahkota dan senjata kehidupan manusia menuju eksistensi tersendiri.

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s