Belajar dari Iskandar Muda

Tercatatlah pada Kitab Bustanus Salatin, tahun 1605 adalah tahun krisis bagi Aceh. Kemarau yang berdampak kelaparan menjadi bencana besar terus mengantui jalan-jalan Aceh ketika itu. Jalan-jalan menjadi tempat matinya berpuluh-puluh budak, penyakit kudis menyergap rakyat dan membuat jalanan Aceh tempat yang buruk. Laporan-laporan penjelajah Eropa pada 1602, seperti yang dikutip dari buku Aceh, Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menyebutkan, beras adalah hal langka dan mahal. Kondisi yang ketika memunculkan golongan yang dapat memainkan harga setinggi mungkin, dan dipihak lain terdapat golongan miskin. Selin itu, Aceh memliki krisis pangan yang dikarenakan kondisi alam berupa rawa yang tidak mudah dijadian sawah, kemudian gengsi penduduk menjadi petani.

Pada saat itulah muncul Sultan Iskndar Muda, masa kepemimpinannnya pada tahun 1607-1636 menjadi era yang gilang gemilang. Krisis pangan yang terjadi pada masa sebelum pemerintahannya perlahan pulih. Sultan menerpakan dua strategi untuk mencapai pemulihan tersebut, yaitu berusaha agar Aceh unggul dibanding kerajaan lain dan menstabilkan pasokan pangan. Ahli sejarah asala Perancis, Denys Lombard, dalam disertasinya Le Sultanat  d’Atceh au temps d’Iskandar Muda menyebutkan bahwa pada masa itu Aceh memiliki lumbung padi yang sangat kuat. Penyelesaian masalah pangan menjadi prioritas sebelum melakukan ekspedisi.

Pada masanya, peran orang kaya yang mengendalikan pasokan beras dikurangi.. beras mampu didatangkan dari daerah sekitar, seprti Pidir (Pidie) dan Daya (aceh Jaya). Iskandar muda juga menerpakan politik pertanian dengan merangsang produksi pertanian. Budak-budak dikirim untuk menanam padi;  pembagian beras dilakukan dengan pengawasan yang ketat agar tepat sasaran. Katahanan pangan bagi Iskandar Muda perlu diperhatikan secara disiplin. Ia menekan peran-peran spekulan yang merongrong kekuasaannya, tapi juga menyengsarakan rakyat.

Sejarah Iskandar Muda adalah sejatinya contoh bagi pemerintah saat ini dalam menjaga ketahanan pangan. Perlu ada keputusan politik yang tepat dan juga kewibawaan yang tidak untuk terhindar dari krisis pangan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapa memeprtahankan kehidupannya sehingga menjadi hak asasi yang harus terpenuhi. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah dalam pembangunan seharusnya dalah pembangunan pertanian.

Pada akhirnya, kebijakan ketahanan pangan nasional telah dirumuskan, termaktub dalam UU Pangan tahun 1996 dan diperkuat PP No. 68 tahun 2001. Kebijakan pun diselaraskan dengan isu global yang disepakati dalam Pertemuan Puncak Pangan Dunia tahun 2001, yaitu mencapai ketahanan pangan bagi setiap orang dan mengikis kelaparan di seluruh dunia. Tapi, yang menjadi permasalahan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan adalah pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan.

Abad 21 adalah tantangan lokal bangsa ini untuk memenuhi tuntutan global. Persoalan pangan menjadi persoalan yang akan menggantikan persoalan energi pada perang-perang berikutnya. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,5% per tahun, dan populasi manusia mencapai 270,8 juta jiwa maka Indonesia menghadapi pemenuhan pangan yang harus diatasi. Konsumsi beras kita saat ini sebesar 115 kg/kapita/tahun. Memastikan ketersediaan pangan dan juga pendistribusian serta pembelian dengan harga yang pantas dari petani adalah sepatutnya.

Politik Pertanian

     Satu hal yang penting diperhatikan ketika Iskandar Muda mengalami masa yang sulit adalah politik pertanian. Politik pertanian yang beliau lakukan adalah menjaga stabilitas ketersediaan pangan untuk Aceh. Lalu, keterjangakauan pangan menjadi hal yang diperhatikan Iskandar Muda dengan disiplin ketika itu.

Kemajuan negara adalah kemajuan pertaniannya dan lebih spesifik adalah kemajuannya dalam menjaga pasokan pangan dalam negeri. Iskandar Muda telah mengajarkan bahwa sebelum program ekspedisi atau penguasaan bangsa lain, ketersediaan pangan kerajaan adalah yang didahulukan. Di era modern ini, pemerintah sepatutnya tak lupa untuk memprioritaskan ketersediaan pangan dalam negeri.

Memang secara umum Indonesia tidak memiliki masalah terhadap ketersediaan pangan. Indonesia mampu memproduksi 31 juta ton beras tiap tahunnya dan mengkonsumsi sedikit di atas produksi tersebut. Data dari BKP pun menunjukan seluruh produksi pangan penting selama tahun 2005-2009 mengalami pertumbuhan yang positif. Tapi, ketersidaa yang ada bukanlah ketersediaan yang menguntungkan petani. Pemerintah masih mengimpor beras dan tidak berusaha megencangkan produksi pertanian dalam negeri. Adanya permainan spekulan dalam menentukan harga beras dari petani sungguh merugikan. Pemerintah tak mampu membeli secara keseluruhan hasil panen dari petani.

Dalam politik ini, seharusnya petani memiliki hak-hak khusus seperti yang ada di negara-negara maju. Hak-hak ini diperlukan untuk memperkuat karakter bangsa sebagai negeri agraria. Petani sebagai tulang punggung ketersediaa pangan dalam negeri. Menjadi percuma apabila pemerintah mampu mencapai target swasembada, tetapi petani dalam negeri mengalami kerugian dan hanya sekadar sapi perah. Itu pula yang diajarkan Iskandar Muda, yang memberdayakan rakyatnya untuk bertani dan tidak sekadar berharap dari berdagang. Tanah-tanah yang ada di Aceh diberdayakan untuk memenuhi ketersediaan.

Terlebih saat ini, dunia mengalami ketidakapstian iklim dan suasana global yang dinamis. Iklim yang tak menentu mempengaruhi jadwal tanam dan tak bisa diprediksi waktu panen. Maka tak heran apabila harga cabe melampaui hargabdaging sapi per kilogramnya. Sedangkan kebutuhan petani dalam menghidupi diri pun sulit karena terkena kebijakan ekonomi dari tarif dasar listrik sampai kenaikan bbm. Sepatutnyalah pemerintah melindungi petani.

Diverisivikasi pengembangan produk pun harus dilakukan untuk menambah nilai dari petani, pun untuk menjaga apabila satu tanaman mengalamai gagal panen. Indonesia memiliki keanekaragaman yang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin. Diverisifikasi dapat dilakukan dengan mengembangkan usaha tani yang memilii keunggulan sebagai “core of business” dan juga mengembangkan usaha pelengkap untuk memperkecil kegagalan panen. Keunggulan yang diprkaya ewat divesifikasi akan semkain mapan apbila melihat aspek keunggulan dari setiap daerah.

Diversivikasi tidak hanya dari produksi melainkan juga sampai tingkat konsumsi. Iskandar Muda mengganti dengan gandum dan juga umbi-umbian ketika beras menjadi langka pada masa itu. Sejarah pun membuktikan, sebenarnya bangsa kita tidak murni konsumen beras sejati. Di Candi Borobudur ditemukan relief pohon gandum yang menandakan gandum menjadi komoditas pada masa itu. Hanya sayangnya saat ini gandum tak lagi ditemukan karena tanah datar yang dijadikan tempat bertumbuhnya banyak dialihfungsikan sebagai hunian ataupun lahan pertanian.

Ketersediaan ini selanjutnya juga akan berdampak pada keterjangkauan pangan. Ketersediaan pangan yang kritis maka keterjangkauan pangan pun akan semkain sulit. Sayangnya, ketersediaan pangan yang memadai pun belum menjamin keterjangakaun pangan menjadi mudah. Inilah yang mengahruskan pemerintah menerapkan politik kebijakan untuk melindungi petani dan hasil priduksinya tak ada oknum yang bermain sebagai spekulan ataupun menimbun.

Pemerintah memang memiliki program RASKIn atau beras untuk keluarga miskin. 20 kg beras per bulan dipasok pemerintah kepada 9 juta keluarga miskin. Namun, yang terajdi adalah program tersebut amat mahal.pada tahun 2004 saja pada wal mulanya menghabiskan 4.8 triliun rupiah. Apalagi bila menengok ketercapaian sasaran yang masih dari target. Rata-rata rumah tangga hanya memperoleh hanya 6 sampai 10 kg beras dan tidak sampai 20 kg yang ditargetkan pemerintah. Hal ini disebabkan karena beras dibagikan secara merata baik pada rumah tangga yang tidak miskin ataupun keluarga yang miskin.

Alhasil, pemerintah perlu menengok kebijakan politik pangan dari Iskandar Muda kala memimpin Aceh. Keidispilinan menjadi hal penting dalam menjaga ketrsediaan dan juga keterjangkauan pangan bagi rakyatnya. Iskandar Muda turun tangan untuk memastikan pendistribusian pangan secara merata dan juga tepat sasaran. Para spekulan yang mempermainkan harga pasar dan juga merugikan petani ditekan oleh Sultan. Sultan percaya bahwa ketahanan pangan bukanlah urusan sesaat tapi diperlukan konsistensi dalam penjagaan dan berkelanjutan. Dan Iskandar Muda mengajarkan kita berabad lampau  lamanya.

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s