Bulan

 

Tergeletak begitu saja, dua hampar bulan. Dimataku ada Bulan malam yang sediakalanya datang dan pergi pada penghujung waktu. Di hatiku, menghujam bulan yang sejatinya tak pernah datang dan pergi. Tapi terlahirkan begitu saja dihati, dari tunas yang ditanam suara renyahmu padaku. Dua bulan itu adalah persimpangan hidupku. Guru kehidupan, yang membuatku tersadar, ada mimpi dan duniawi. Mana bulan malam, dan mana bulan yang menghujam di hati. Karena dulu, aku tak membedanya, kedua bulan aku anggap sama. Hatiku seakan pecah karena bulan dihatiku semakin tumbuh membesar kala ada suaramu, begitu melihat cahayamu. Tapi itu mimpi. Lalu, aku melihat bulan besar di malam, ada wajahmu. Itu mimpi, meski itu nyata. Karena mimpi harus disentuh dengan hati. Dan duniawi meski digenggam dengan langkah kaki. Tak membeda mimpi dan duniawi adalah hidup. Membeda keduanya maka sudahlah kita belajar hidup.

Tinggalkan komentar

Filed under Aforisma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s