Luka

Selang-selang berjejar dalam sunyi, melihatmu dalam tubuh yang layu. Ini bukan dejavu atau mungkin cerita lama. Entah sejak kapan kau hentikan sepotong cerita itu. Cerita tentang luka, yang memberi tanda dikulit-kulit kita. Dalam gores yang ragu. Ada kisah yang tertunda. Sampai akhirnya kau pergi membawa derai air mata. Dan derai itu beralih ke mataku. Melihatmu tergulai tanpa daya di atas kasur putih itu.

***

“Kamu pilih mana, menutup luka pada luka. Menutup luka namun tetap luka. Bak perban yang menutup luka, kau tampak baik-baik saja, entah apa yang tersembunyi. Atau, kau beri obat yang semakin memerihkan luka, kelak sembuh, namun memberi tanda, dan kadang akan kambuh dalam cerita dan derai air mata. Luka bisa sirna namun tanda selalu ada. Luka bisa tiada tapi rasa selalu ada. Karena luka hanya sakit sesaat, tapi ada tanda yang memberi cerita. Memutar kisah, perjalanan, dan datangnya luka. Kadang tawa mungkin derita.”

“Kalau diperhatikan memang, luka memerihkan raga atau jiwa. Tapi rasa melupakan segalanya. Demi cerita selanjutnya.”

***

Dan kau masih tertidur pada tempatmu. Dan kau memilih tempat lain untuk kau tidur. Bukan semata, tapi selamanya. Kau ajarkan luka, kau ajarkan tawa, kau ajarkan harap, kau ajarkan degap. Kami hanya bisa ragu, pada tubuhmu yang kaku.

Pada luka maka ceritakan

Pada luka maka dengarkan

Pada luka maka tuliskan

Pada luka ada kita

Tinggalkan komentar

Filed under Aforisma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s