Mencari Perdamaian Libya

Perdamaian menjadi ayat suc sejak 15 Februari. Waktu disaat  Khadafi dan Libya menjadi dua mata uang yang tak bisa lepas dari bagian revolusi yang semarak di timur tengah. Khadafi menghadapi ribuan oposisi yang diirnya mundur sebagai panglima atau pemimpin turun dengan cara tangan besi. Menyebut rakyat yang melawannya dengan sebutan “kecoa” dan “tikus”. Ribuan korban berjatuhan, yaitu rakyatnya sendiri karena harus berhdapan dengan tank-tank serta tentara loyalis Khadafi.

Resolusi Dewan Keamanan PBB No 1973 adalah  roda kehidupan Libya yang baru. Perang semakin panjang. Tanah Libya semakin dipenuhi oleh pertempuran. Oposisi yang berbasis di Benghazi menyambut senang NATO. Libya menjadi tanah tempur untuk 5 negara NATO dan Libya. Sesaat itu juga kapal-kapal perang AS dan Inggris yang berada di laut mediterania menembakkan leih dari 110 rudal Tomhawk ke sejumlah lokasi di Libya. Tak sedikit korban adalah salah sasaran, masyarakat sipil didalamnya.

Perdamaian dan perdamaian yang dicari; masyaralat global memprotes khadafi. Amerika lewat Obama turut mendesak. Negara minyak itu porak poranda dan semakin hancur. Zona larangan terbang yang awalanya untuk membatasi gerak Khadafi menjadi pemicu munculnya Resolusi PBB. Banyak pihak pun akhirnya berkyakinan intervensi barat bukan untuk mencari perdamaian, tapi adaah minyak. Libya mendekti Irak, negeri makmur yang menjadi nol karena intervensi barat dengan perang.

Perdamaian hanya retorika dan topeng untuk sebuah kepentingan. AS ingin menjaga  i Israel serta mengincar minyak di timur tengah, itulah yang terjadi di Irak dan Afghanistan. Perang adalah jalan yang ditempuh. Kalau bukan karena minyak tak mungkin AS rela mengelurakan dana yang besar. Pada hari pertama operasi militer yang diberi nama “perjalanan fajar”, AS sudah mengeluarkan USD 100 juta (sekitar 850 miliar). Sampai bank dunia melalui Richard Fisher mengingatkan AS bahwa negeri tersebut akan mengalami kebangkrutan andai masih melanjutkan peperangan.

Mencari damai semakin sulit karena panglima perang AS adalah penerima Nobel Perdmaian dua tahun yang lalu, yaitu Barrack Obama. Perang adalah pilihannya seja awal menurut beberapa pengamat. Upaya dari Sekjen Ban Ki-Moon bersama Sekjen Liga Arab yang memprotes serangan tersebut dan mendesak koalisi internasional berhenti tak digubris. Perang yang ada adalah perang terencana. The New york Times (3013) menyebutkan kalau pasukan Inggris telah berada di Libya beberapa pekan sebelum keputusan serangan koalisi inetrnasional ke Libya.

Melindungi masyaralat sipil dari kekejaman Khadafi pun menjadikambing hitam saja. Sampai sejauh ini, pemberitaan televisi lebih banyak menampilkan gambar dan berita kekejaman NATO dalam menggempur Libya. Bahkan, kekejaman Khadafi yang sebelumnya mencuat seakan sirna, apalgi baru-baru ini dikabarkan Khadafi mengunjungi sekolah di Tripoli. Masyarakat disana masih loyal padanya dan menyerukan anti-barat dan anti imperialis.

Damai, adalah dengan menghindari perang dari juru damai. Maka koalisi negara NATO harus mengehentikan penyerangan. Melakukan perundingan dengan pihak Khadafi adalah sepatutnya. Menyelamatkan warga sipil bukan dengan mengorbankan warga sipil pula. Karena masyarakat internasional terutama timur tengah sedang mencari perdamaian di Libya.

*Tulisan ini pernah dimuat harian Seputar Indonesia 14 April 2011

Tinggalkan komentar

Filed under Ceritaisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s