Idealisme Mahasiswa = Idealisme Hati Nurani Bangsa

Jika hatimu tergetar melihat penindasan,

maka kau adalah kawanku

~ Che Guevara

Sejarah Indonesia adalah sejarah kehidupan mahasiswa. Generasi pemuda yang hampir selalu muncul sebagai penentu perubahan-perubahan besar dalam kehidupan bangsa. Soekarno telah menandai awal mula mahasiswa sebagai kehidupan bangsa dan menjadi penyalur antara rakyat dan penguasa sehingga menyebut dirinya “Penyambung Lidah Rakyat”. Belum lagi peristiwa 66, Malari, atau yang masih terngiang oleh kita, yaitu reformasi. Semua berbicara mengenai kehidupan bangsa dan mahasiswa.

Oleh sebab itu, tak berlebihan untuk mengatakan mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa. Itu mingkin ada pada Anda atau saya. Bak sebuah padang pertempuran maka perguruan tinggi adalah embrional dari segala kehidupan bangsa, mahasiswa adalah elemen penting di dalamnya. Idealisme yang diagungkan seorang mahasiswa adalah sebuah harta benda yang bernilai. Barang berharga yang mungkin tak lagi dimiliki ketika lepas dari status mahasiswa. Idealisme mahasiswa mencerminkan idealisme calon pemimpin negeri ini kelak. Dengan segala transformasi pola pikir yang mewarnainya. Dekat dengan rakyat. Semua berawal dari kampus. Maka tak sungkan saya sebut, idealisme mahasiswa adalah idealisme hati nurani bangsa

/1/

Dalam khazanahnya, suatu hal yang ideal adalah suatu hal yang diluar jangkauan dunia real. Paradigma itu pula yang menyeret segelinitr mahasiswa yang idealis adalah mahasiswa yang egois: mahasiswa yang memiliki acuan tersendiri yang harus tercapai.

Kalau dirunut pada akar kata idealisme dan idealis! Idealisme bermula dari perkataan Plato tentang pandangannya yang ideal bahwa ide adalah esensi yang transenden yang melatari setiap realitas yang ada di luar sehingga ide menjadi realitas yang fundamental. Pandangan tersebutlah yang memunculkan beragam teori seperti Berkeley dengan pandangan idealisme subjektivnya yang menekankan bahwa keberadaan ide harus bersandar pada akal. Lalu, ada Kant dengan transenden idealisme yang melihat bahwa ide adalah sesuatu yang transenden dalam pikiran kita. Hegel kemudian mencoba mensitesiskan keduanya sehingga menyebutkan kalau ide adalah esensi dari alam dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobjektivkan. Secara garis besar bahwa idealisme itu haruslah berawal dari akal, meskipun terkadang tidak rasional.

Saat ini, idealisme atau idealis yang kita dengar adalah yang jauh berbeda dari muasal kata. Idealisme seakan berbicara sebuah pandangan seorang akan sebuah aliran. Maka tak heran ada pandangan bahwa seserang dicap dengan idealismenya sebagai sosialis, agamis, kapitalis, atau liberal. Atau malah, sesuatu yang ideal hanya seperti sebuah mimpi yang jauh dari dunia real. Sehingga muncul banyak pertanyaan bagaimana cara mempertemukan idealisme dengan realita. Sehingga dalam dunia mahasiswa antara idealisme dan realita seperti teman seiring yang bersimpang jalan.

Menurut KBBI definisi idealisme adalah ide.al.is.me
[n] (1) aliran ilmu filsafat yg menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; (2) hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna; (3) Sas aliran yg mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. Dan pengertian nomor dua adalah yang sering kita alami.

/2/

Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya.(Soe Hok Gie)

 

     Mahasiswa sebagai sebuah diskursus menempatkan dirinya sebagai sebuah pemegang idealisme paling handal. Tak heran banyak kita dengar ucapan dari mahasiswa bahwa “Idealisme saya adalah harga mati dan tak akan saya jual demi apapun.” Idealisme bagi mahasiswa bukanlah sekadar dunia ideal yang begitu dalam akan teori dan mengambang di realita. Idealisme mahasiswa adalah pertengahan di antara keduanya. Pertemuan itu dijembatani oleh kesadaran moral mahasiswa yang dekat dengan rakyat dan sadar akan peran dan posisinya di negeri ini.

Dengan idealisme pula lah mahasiswa dapat berjalan sesuai dengan rel perjuangan yang telah dipilih. Rel perjuangan itulah yang telah menjadi warna dalam perjuangan mahasiswa. Namun, semua rel itulah yang akan menjadi jalan penghubung dan bertemunya sebuah idealisme mahasiswa yang otentik. Idealisme yang datang dari alam pikir dan alam semesta. Stasiun yang mempertemukan semua rel perjuangan adalah hati nurani bangsa. Sehingga pada dasarnya semua pergolakan yang kita lalui demi satu tujuan dan berawal dari satu alasan, yaitu rakyat. Inilah idealisme mahasiswa yang sejati.

Bukti idealisme kita sebagai mahasiswa bukan lagi ketika kita mampu mempertahankan apa yang ada dalam nilai ideal kita ketika berbenturan dengan realita; ungkapan dari Che Guevara cukup menjadi bukti: “Jika hatimu bergetar mellihat penindasan maka kau adalah temanku”. Buah idealisme bukanlah mempertanyakan apakah dia sosialis atau marxis/komunis. Seperti halnya kebingungan kita pada idealisme Gie yang condong pada isme apa, tapi kita semua sepakat bahwa idealisme Gie yang memperjuangkan rakyat kecil. Seperti kisah Gie yang menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga. Gie mencatatakan dalam buku harian: Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, paduka kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istrinya yang cantik. Aku besertamu orang-orang malang. Idealisme adalah hal sederhana yang penuh makna.

/3/

Kemudian, mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa memiliki prakara utama dengan idealismenya. Sejauh mana dia mampu mendalami idealisme yang dipilihnya dan sejauh mana idealisme tersebut dapat dipertahankan ketika sudah jauh dari dunia mahasiswa? Konsistensi idealisme menjadi pokok bila memperhatikan banyak pemeo mengatakan idealisme itu cuma mainan mahasiswa saja. Ketika sudah tak lagi menjadi mahasiswa, idealisme tak perlu dipertahankan.

Padahal, idealisme itu adalah realita itu sendiri. Bukan berarti mahasiswa masih bisa beridealis dikarenakan mahasiswa adalah menjadi manusia yang bebas dan independen.  Tapi, adalah soal sejauh mana mahasiswa memahami idealisme yang dipilihnya. Kedalaman inilah yang akan memengaruhi keterkaitan dengan dunia luar kampus yang kelak pemimpin bangsa dipegang oleh mereka yang dulunya mahasiswa. Bukan berdalih beda posisi beda situasi. Dulu saya mahasiswa saatnya mengkritik sekarang menjadi pejabat berganti saatnya dikritik. Idealisme jauh dari syak wasanga posisi dan peranan. Idealisme menuntut adanya sesuatu yang diperjuangkan. Menuntut adanya konsistensi perjuangan dan tidak pragmatis dengan keadaan. Dengan idealismelah arah pergerakan menuju sesuatu yang dinginkan terlihat jelas dan terarah.

Mahasiswa adalah manusia yang dinobatkan sebagai cendekia. Individu yang setidaknya telah memiliki cap idealisme   pada sosoknya ketika tersemat status mahasiswa. Idealismenya adalah agen prubahan ‘agent of change’, kekuatan moral ‘moral force’, dan agen control sosial ‘agent of control social’.

Saah satu yang patut diperhatikan mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa adalah sebuah idealisme dasar. Agen perubahan dan agen control sosial harus dipahami bukan sakadar idealisme mahasiswa tetapi juga mennjadi idealisme sebuah individu. Idealisme yang harus dipegang sampai kapanpun dan tak terpengaruh dengan status mahasiswa.

Mengenai pemahaman pun seorang mahasiswa harus memahami idealisme sebagai sebuah bentuk perjuangan yang dipilih. Yang berorientasi pada rakyat dan menuju keadilan. Pemahaman yang utuh menjamin adanya minimalisasi distorsi pemaknaan terhadap idealisme yang dipegang, teruatam setalah lepas dari mahasiswa.

Selain pemahaman yang utuh dan konsistensi idelisme mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa adalah idelisme sebagai direct of change. Fungsi yang seharusnya ada dan diperhatikan. Selama ini kita terjebak oleh mitos dari Soe Hok, yaitu “kalau tidak mau dikritikbiar kami mahasiswa yang menjabat dan Anda menjadi mahasiswa yang mengawasi. Tapi, mahasiswa pun perlu menjadi pengarah berjalannya perubahan. Reformasi seakan mandeg bisa jadi karena tidak ada perna mahasiswa dala mengarahkan. Tak mau masuk dalam dunia perjuangan baru di parlemen karena takut di cap mencari sanjungan atau menjual idealisme.

     “Seorang Cowboy datang ke sebuah kota dan horison yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan dan ketidakadilan. Cowboy ini menantang sang bandit berduel dan ia menang. Setelah banditnya mati penduduk kota yang ingin berterima kasih mencari sang cowboy. Tetapi ia telah pergi ke horison yang jauh. Ia tidak ingin pangkat-pangkat atau sanjungan-sanjungan dan ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit berkuasa.” (catatan seorang demonstran)

     Cerita dari Gie memang relevan dengan keadaannya pada masa itu yang banyak dinatar temen-temannya terjun ke parlemen dan menjual idealisme yang dulu dijunjung tinggi. Saat ini, gerakan mahasiswa tidak melulu menjadi koboi. Tidak harus menjadi pihak luar yang berjarak dengan masalah seperti menara air. Pun perlu kelak masuk dalam masalah dan pemecah di dalam.

Biar bagaimanapun idealisme mahasiswa adalah bekal idealisme kita sebagai calon pemimpin bangsa. Perubahan pun tak akan berubah hanya karena idealisme semata. Namun, perlu gerakan dari idealisme kita. Pun demikian yang diucapkan Gie, “Patriotisme tidak akan lahir dari hipokrisi dan slogan.” Hidup Mahasiswa. Idealisme mahasiswa adalah idealisme hati nurani bangsa.

 

 

1 Komentar

Filed under Ceritaisme

One response to “Idealisme Mahasiswa = Idealisme Hati Nurani Bangsa

  1. Risma

    lo bisa menjelaskan idealisme dg sangat deskriptif,,tapi susah banget jelasin karakter fib kayak apa -.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s